freedomlife: Di Balik Layar Aplikasi Baca Alkitab Seporsi Sehari

10 Mei 2024  •  --------

Tersedia dalam .

Hai, Aga disini. 👋🏻 Saya akan membagikan cerita di balik layar freedomlife, aplikasi baca Alkitab seporsi sehari setahun habis yang merupakan side-project yang saya kerjakan di waktu luang saya. Aplikasi ini juga merupakan aplikasi yang open-source atau kode nya dapat dilihat oleh publik, dan semua orang dapat berkontribusi (lihat disini).

Tulisan ini merupakan sebuah refleksi, dan saya ingin berbagi bagaimana aplikasi ini bermula, bertumbuh dan berjalan selama 5 tahun hingga hari ini (2019-2024). Saya akan membahas apa itu freedomlife, memperlihatkan di balik layar perjalanan dari awal hingga saat ini, membagikan keadaan keuangan, dan juga orang-orang yang membantu freedomlife.

Apa itu freedomlife?

freedomlife adalah aplikasi Alkitab berbahasa Indonesia dengan panduan baca hingga setahun penuh. Panduan baca tersedia setiap hari—yang saya biasa sebut, seporsi sehari.

Kita tidak perlu bingung lagi tentang apa yang harus kita baca. Ada kumpulan panduan bacaan untuk hari ini dan semua hari yang ada di tahun yang sama. Tidak hanya itu, freedomlife juga adalah aplikasi Alkitab biasa. Jadi kita dapat membaca kitab dan pasal spesifik yang kita mau.

Awal

Sebelum aplikasi ini ada, freedomlife sudah ada terlebih dulu. Dimulai oleh gereja lokal saya yang berada di Yogyakarta yaitu Gereja Kristen Kemah Daud Yogyakarta (GKKD). Jadi sebenarnya freedomlife bukan hal yang baru untuk kami jemaat GKKD, karena sudah cukup lama kami membaca menggunakan panduan freedomlife.

Bentuknya saat itu adalah kertas yang dilipat (seperti brosur) yang dikeluarkan setiap 1 atau 3 bulan sekali. Berisi panduan baca setiap hari dengan kelompok-kelompok pasal seperti yang ada sekarang. Lalu kertas tersebut dapat diambil pada saat jemaat ada di gereja.

Seiring berkembangnya teknologi, banyak orang mulai beralih untuk membaca Alkitab melalui gawai (handphone, tablet) mereka. Namun freedomlife masih berbentuk kertas, sehingga ada beberapa masalah yang timbul bagi saya dan teman-teman sebaya:

  • Aplikasi Alkitab terpisah dari panduannya: saat mau membaca Alkitab dengan panduan, kami buka kertas freedomlife, mencari dalam kertas tersebut hari yang ingin kita baca, dan saat menemukannya kami harus memasukannya manual ke aplikasi Alkitab.
  • Panduan lupa dibawa atau ketinggalan: kalau yang ini sepertinya sudah self-explanatory. Tidak dapat dengan mudah dibaca di mana saja karena ada kertas yang harus dibawa kemana-mana. 😕
  • “Udah dibaca belum ya?” — seringkali kami lupa, kalo hari ini atau kemarin kami udah baca atau belum. Dan karena ada di kertas yang berbeda, kami harus memberi catatan dengan pena/pensil di kertas tersebut.

Melihat masalah tersebut, menurut saya ini menjadi kesempatan untuk membuat pengalaman baca Alkitab dengan panduan lebih mudah dan nyaman.

Mulai

Awal tahun 2018 saya memulai inisiatif untuk membuat aplikasi freedomlife. Saya mulai berdiskusi dengan teman-teman sebaya terlebih dahulu dan kemudian bergeser ke lebih banyak orang dari berbagai kelompok usia, untuk mengetahui keinginan mereka lebih jauh: “kalau freedomlife ada aplikasinya, bentuknya enaknya kayak gimana ya?”

Ada 2 hal penting yang akhirnya menjadi prioritas saya untuk membuat proof-of-concept nya:

  • Kesatuan: kelompok pasal yang sudah ada di panduan sebelumnya (misalnya: Kejadian 1) digabungkan dengan isinya yang ada di Alkitab secara langsung. (Kejadian 1 dan isinya dapat langsung dibaca)
  • Panduan Bulanan: menampilkan informasi panduan harian yang ada di bulan tersebut.

Karena kesibukan sekolah pada waktu itu, akhirnya saya baru sempat mulai mengeksekusi ide dari proof-of-concept tersebut pada awal tahun 2019, saya mengerjakannya di akhir masa saya sekolah (SMK). Prototype awal yang saya buat di Adobe XD (waktu itu Figma belum populer) kurang lebih seperti ini:

Arsip Instagram Story Tahun 2019

Pada tahun 2019, trend material design sedang hangat-hangatnya, dan tampilan awal ini pun yang menjadi versi pertama aplikasi freedomlife. Saya merilis versi websitenya pada bulan Februari tahun 2019, dan saat itu masih menggunakan domain dan hosting gratis saja.

Versi awal ini hanya digunakan oleh sedikit orang saja dan belum diumumkan secara luas di gereja. Hanya teman-teman dan keluarga terdekat yang saya berikan link nya untuk mencoba, karena belum ada domain tetapnya jadi masih domain yang random bentuknya. (seingat saya hanya semacam: freedomlife-agallio-<random-id>)

Lompat lagi ke akhir tahun 2019, saya akhirnya membeli domain freedomlife.id yang saya pakai hingga hari ini, dan saya beli dengan uang saya sendiri. (di akhir tulisan ini akan membahas lebih detail tentang sisi biaya proyek ini)

Perjalanan

2020

1 Januari 2020 saya merilis tampilan mode gelap (dark mode) untuk freedomlife. Tampilan mode gelap ini sangat banyak di request di awal freedomlife rilis, namun karena ini adalah sebuah side-project, saya baru dapat mengerjakannya mendekati awal tahun 2020.

2020
2020 Valentine
2020 Christmas

Lalu pada pertengahan tahun 2020, saya merilis aplikasi Android freedomlife dengan sistem early access. Jadi saya hanya membuka sedikit slot registrasi bagi orang-orang yang ingin menggunakan versi Android. Saat itu kira-kira terkumpul sekitar 10 orang yang menggunakan versi Android pertama kali.

2021

Awal tahun 2021, saya melihat kalau di tahun ini desain freedomlife yang lama sudah terlihat “jadul”. Jadi saya merilis pembaruan desain freedomlife yang masih bertahan hingga saat ini. Pembaruan design ini juga dibantu oleh Dedy Walesya sebagai kreator logo freedomlife.

Tahun ini juga merupakan tahun dimana freedomlife melesat karena beberapa kreator di TikTok & Instagram mulai membagikan freedomlife di akun mereka. Salah satu akun yang besar pengaruhnya adalah video dari akun TikTok pemuda di gereja lokal saya: Fire Community.

Arsip Instagram

Biasanya pengguna freedomlife hanya berasal dari dalam gereja lokal saya baik yang masih di Yogyakarta, maupun yang sudah kembali ke kota mereka masing-masing. Namun dengan fenomena ini, freedomlife menjadi dikunjungi dan digunakan lebih luas oleh orang-orang yang ada di Indonesia maupun diaspora Indonesia yang berada di luar negeri. Beberapa donasi juga mulai datang di tahun ini untuk membantu freedomlife tetap bertahan (lebih lengkapnya di bagian biaya di bawah).

2022

Saya merilis sebuah postingan di Instagram tentang status freedomlife pada tahun ini. Status tersebut lebih kepada memberi update kepada teman-teman terdekat saya yang mengikuti freedomlife dari awal.

Juga di tahun yang sama saya akhirnya memberanikan diri untuk merilis versi iOS nya. Saya awalnya ragu, karena untuk merilis sebuah aplikasi di Apple App Store membutuhkan modal yang besar (dapat dilihat detail nya di bagian biaya), dan membutuhkan waktu yang cukup lama juga untuk membuatnya. Tapi saya tidak akan bahas secara teknis nya disini, akan saya bahas di tulisan terpisah. 😉

Postingan Status Instagram
Rilis di Apple App Store

Sekarang

Untuk tahun 2023-2024 saya rangkum saja di bagian ini — Jadi bagaimana sekarang? Saya hanya sempat merilis satu fitur tambahan yang saya pribadi inginkan dari sejak pertama, yaitu membuat freedomlife dapat di operasikan secara offline. Versi Alkitab dapat diunduh dan digunakan secara offline, jadi bisa dibaca di mana pun, kapan pun.

Saya mencoba merilisnya kepada pengguna-pengguna yang termasuk dalam beta tester terlebih dahulu, dan reaksi mereka sangat bagus. Jadi saya putuskan untuk merilis fitur ini ke semua pengguna. Dalam 1 minggu fitur ini dirilis, setengah dari pengguna freedomlife langsung menggunakannya!

Pengguna

Sebelumnya di bagian tahun 2022 saya sudah memberi update jumlah pengunjung dan pengguna freedomlife selama 3 tahun ke belakang (2019-2022). Walaupun sebetulnya datanya kurang lengkap karena ada beberapa bulan yang terhapus saat saya melakukan migrasi data.

Karena sudah genap 5 tahun, di bawah ini adalah update jumlah pengunjung dan statistiknya selama 5 tahun ke belakang:

Data diperbarui pada 10 Mei 2024

Luar biasa! Bertambah hampir 3 kali lipat hanya dalam 2 tahun. Ini merupakan angka yang sangat besar buat saya. Sekarang, rata-rata sekitar 180-200 orang yang setiap hari menggunakan freedomlife untuk membangun hubungan pribadi dengan Tuhan melalui firman-Nya.

Biaya

Ini adalah bagian yang banyak orang ingin tahu. Tentu, untuk menyediakan layanan seperti freedomlife yang dapat diakses kapan saja dan dimana saja tidak bisa diraih secara cuma-cuma. Ada harga yang harus dibayar untuk membuat freedomlife tetap ada sampai hari ini. Berikut adalah beberapa biaya yang harus dikeluarkan:

  • Hosting, server, dan domain: $134 USD / tahun. (Rp. 2.146.000)
  • Apple Developer Account (Publishing): $99 USD / tahun. (Rp. 1.600.000)
  • Google Developer Account (Publishing): $25 USD satu kali bayar. (Rp. 400.000)

Jadi, total biaya perbulan freedomlife adalah sekitar ± $20 USD (± Rp. 330.000) dan total biaya dari awal freedomlife dibangun sampai tulisan ini dibuat adalah sekitar ± $893 USD (± Rp. 14.305.000) (Kurs 10 Mei 2024).

Pada tahun 2021-2022, sekitar 50% dari biaya tersebut dibantu oleh para donatur. Sekarang, sekitar 60% dari biaya tersebut dibantu oleh para donatur, sisanya dari saya pribadi. Karena donatur memberikan donasi dengan mata uang rupiah, besaran persentase tersebut berubah-ubah tergantung nilai tukar mata uang rupiah terhadap US dollar.

Apa Selanjutnya?

Saya akan tetap melanjutkan untuk memelihara aplikasi freedomlife. Fitur-fitur yang banyak diajukan seperti sorotan, penanda buku, dan Alkitab suara adalah beberapa fitur yang akan saya persiapkan, namun kembali lagi ini hanya sebatas side-project yang saya lakukan di waktu luang saya. Jika Anda ingin membantu saya dalam hal software engineering, Anda dapat menghubungi saya melalui email yang ada di bagian bawah halaman ini atau dapat langsung berkontribusi di GitHub freedomlife.

Ucapan Terima Kasih

Seperti apa yang sudah saya bahas di bagian sebelumnya, saya mulai mendapatkan bantuan donasi dari pengguna dan teman-teman yang ada di Indonesia dan Singapura. Donasi tersebut membantu freedomlife bertahan sampai hari ini. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada para donatur: Imanuela Michelika, Sonny Lazuardi (diaspora Indonesia di Singapura), Agustinus Nathaniel, Jacky Efendi, Nipe Setiawan Harefa, Yefta Antika, Agnes Luvena, dan Lexy Pahlevy.

Juga terima kasih kepada teman-teman dan keluarga yang sudah membantu saya secara waktu, ide, dan tenaga: Anja Natalia, Budi Abdipatra, Elyada Adi, Exallom Shalase, Joko Purnomo, Matthew Ethan, Michell Vica, Pauline Abdipatra, Samuel Nicko, Srikin, Stevanus Paulus, dan semua teman-teman yang sudah membantu saya membagikan aplikasi ini kepada teman, saudara dan keluarga. Tuhan memberkati teman-teman semua. 🙏🏻

Penutup

Saya harap tulisan ini dapat memberikan informasi sekaligus sebuah “tur” singkat bagaimana freedomlife dimulai dan bertahan hingga saat ini. Sekali lagi saya bersyukur dan berterima kasih untuk semua bantuan dan dukungan baik secara keuangan, maupun doa, waktu dan tenaga yang disediakan untuk membantu saya membuat hal ini menjadi nyata.

Dan jika Anda ingin membantu freedomlife berkembang melalui keuangan, Anda dapat membaca di bagian bawah di halaman ini.

Untuk teman-teman yang belum memulai membaca firman Tuhan, dan bingung mulai dari mana, saya mendorong untuk mencoba aplikasi freedomlife. Jika Anda terberkati dan merasa dimudahkan, bagikan ke teman-teman yang lain supaya mereka juga merasakan apa yang Anda rasakan. 😉

Akhir kata, tulisan ini bukan bermaksud untuk menyombongkan diri, karena semua bukan dengan kekuatan saya sebagai manusia. Namun, semua karena Tuhan itu ada, Dia memampukan, dan Dia menyediakan. Tuhan memberkati!